MACAM-MACAM KREDIBILITAS

MACAM-MACAM KREDIBILITAS

1. Kredibilitas Kepribadian

Dalam hidup bersosial, kita melihat dan menjumpai
berbagai macam karakter individu. Dari yang dermawan,
pelit, sampai yang setengah dermawan dan setengah
pelit. Dari yg jujur sekali, jujur biasa, pembohong
besar, agak pembohong sampai yg pembohong
kecil-kecilan. Dari yg setia sampai yg pengkhianat.
Dari tipe yg punya prinsip idealis, yg pragmatis
sampai yg oportunis. Dari yg sukanya having fun,
setengah serius sampai yg serius sekali. Dari yg
penyabar, periang, sampai yg pemberang dan pembenci.
Dari yg pribadi bermartabat (dignified) sampai pribadi
budak (undignified). Dari yg tulus, penuh dedikasi
sampai yg suka iri, mencari untung dari penderitaan
orang lain, sampai pada yg paling ekstrim: tidak rela
melihat orang lain bahagia. Dari yg berjiwa lemah,
cebol sampai yg berjiwa besar. Dari yg suka bergaul
sampai yg suka menyendiri. Dari yg caring sampai ke yg
tidak pedulian.

Semua karakter kepribadian yg kita miliki akan
membentuk kredibilitas kita di mata orang lain di
sekitar kita. Inilah awal mula terjadinya perbedaan
sikap seseorang pada individu tertentu. Secara insting
manusia akan melihat dan menilai karakter setiap orang
di sekitarnya, dan akan melakukan penilaian dan
bersikap berdasarkan penilaian mereka pada perilaku
keseharian kita. Dari situ kita kemudian melihat dan
tahu penyebabnya, mengapa si A begitu mendapat respek
dari orang di sekitarnya; si B banyak temannya; si C
selalu dicurigai dan kadang dibenci; si D dikasihani;
si F dikagumi dan dihormati, dst.

Dg kata lain, apapun sikap orang di sekitar kita
apakah berupa sikap sinis, sikap senang, respek,
penghinaan, kecurigaan, dll adalah murni merupakan
pantulan/resonansi dari sikap kita sendiri. Kalau
orang selalu bersikap curiga, tidak respek dan dingin
pada kita, maka pasti ada sikap kita yg selama ini
membuat mereka bersikap demikian. Untuk itu,
diperlukan introspeksi dan restropeksi. Karena
melakukan introspeksi atau mawas diri itu tidak mudah
(lebih mudah melihat kelemahan orang lain daripada
kelemahan dan kesalahan diri sendiri), maka diperlukan
bantuan orang lain untuk memberitahu kita. Oleh karena
itu, diperlukan kritik. Kritik, baik dari “lawan”
maupun kawan sama pentingnya. Dan kewajiban kita untuk
mendengarkan kritik-kritik itu dg serius, kalau kita
ingin kepribadian kita berkembang mencapai
kredibilitas pribadi yg ideal. Bukan malah marah dan
menyalahpahami kritikan itu.

Demikian juga, kalau kita dihormati dan disukai oleh
lingkungan kita, maka itu tanda kita telah mendapat
kredibilitas di mata mereka dan kita harus dapat
mempertahankan kredibilitas itu sampai akhir hayat
kita dan berusaha untuk terus meningkatkannya,
tentunya dg cara mendengarkan berbagai kritik yg
dialamatkan ke kita.

Bagaimana untuk mencapai tahap memiliki kredibilitas
pribadi yg tinggi? Tiada lain dg mengikuti aturan dan
norma-norma yg disepakati dalam masyarakat serta
menjauhi hal-hal yg ditabukan. Ada tiga hal nilai,
etika dan norma yg umumnya dipakai dan menjadi standar
dalam masyarakat; penekanannya tergantung dalam
masyarakat golongan mana kita tinggal. Pertama,
nilai-nilai agama. Ikuti perintah dan anjuran serta
jauhi larangan agama apapun yg Anda anut. Kedua,
norma-norma sosial setempat. Kalau kita tidak dapat
melakukan hal-hal yg disuka dalam masyarakat setempat,
minimal kita dapat menjauhi hal-hal yg ditabukan.
Ketiga, memahami dg baik nilai-nilai universal. Ini
diperlukan terutama ketika kita terlibat dalam
pergaulan internasional, antarbangsa.

Pada dasarnya, tiada pertentangan antara ketiga etika
dan norma-norma di atas (agama, lokal, universal).
Namun, bila konflik nilai terjadi, maka tergantung
kitalah nilai mana yg perlu didahulukan. Sebagai
contoh, seorang diplomat muslim akan mengalami konflik
antara minum alkohol dengan tidak meminumnya dalam
sebuah jamuan makan bersama antardiplomat; antara
mencium pipi diplomat wanita atau nyonya diplomat dg
tidak menciumnya. Apabila diplomat tsb. cukup agamis,
tentunya dia tidak akan ikut minum alkohol; toh dg
minum pun tidak akan menjamin diplomasinya akan
sukses; begitu juga dg cium pipi, dst. Begitu juga,
ketika umat Kristen menjamu kalangan muslim yg datang
untuk mengucapkan selamat natal dan tahun baru,
tentunya dia dg bijak tidak akan menyuguhkan minuman
beralkohol — apalagi menawarkannya — pada kolega
muslimnya. Dalam konteks konflik nilai semacam ini,
maka yg musti mengalah adalah pihak yg dalam posisi
lebih ‘tinggi’. Tuan rumah tentu lebih tinggi
posisinya dari tamu.

Hidup adalah proses perjalanan tidak hanya dalam
bidang karir tapi juga karakter. Dan apabila kita
ingin mencapai karakter pribadi yg baik, maka ia harus
terus dipupuk, disemai dan dipelihara untuk mencapai
kredibilitas yg ideal. Credibility has to be earned.
Untuk menjadi pribadi yg kredibel (memiliki
kredibilitas) itu tidak gratis. Harus dilakukan
sedikit demi sedikit, tahap demi tahap. Dan, seperti
disinggung di muka, langkah pertama untuk mencapai ini
adalah: dengarkan kritik darimanapun datangnya. Simak
dan analisa. Sebagai contoh, apabila kita dibilang
pelit, dengarkan. Mungkin itu benar. Dan pelit
merupakan hal tabu tidak hanya menurut agama tapi juga
lokal dan universal. Begitu juga dg jujur, pendusta,
komitmen, dll.(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: