Kutu Loncat

Nothing is too high for a man to reach, but he must climb with care and confidence.”
Hans Christian Andersen”I have missed more than 9000 shots in my career. I have lost almost 300 games. On 26 occasions I have been entrusted to take the game winning shot . . . and missed. And I have failed over and over and over again in my life. And that is why . . . I succeed.”Michael Jordan

“Kutu loncat” dalam urusan karir sering didefinisikan sebagai seseorang yang sering berpindah-pindah pekerjaan. Kalau saya menyebutnya dengan istilah “nomaden”. Biasanya, kegiatan berpindah perusahaan ini dilakukan dalam rentang waktu kerja satu sampai lima tahun sekali. Namun, tidak jarang karyawan yang masa kerjanya belum memasuki satu tahun, telah memutuskan untuk keluar dan pindah ke perusahaan lain. Para “kutu loncat” ini sebenarnya bukanlah kategori karyawan yang tidak berkompetensi. Justru kebanyakan dari mereka adalah para pelaku professional yang memiliki kompetensi dan kualitas sangat bagus. Mungkin Anda akan bertanya-tanya, jika memang sudah memiliki karir bagus, gaji dan benefit bagus, lalu apa sih yang mereka cari sesungguhnya. Kenapa meresikokan perjalanan karir mereka untuk suatu tujuan yang sebenarnya mereka sudah dapatkan disuatu perusahaan. Jawabannya sangatlah simpel, yakni sebuah tantangan. Tantangan untuk terus maju dan mengembangkan diri sejalan dengan lajunya aspek-aspek dalam dunia ini. Tentu saja dibarengi dengan kompensasi lain yang sangat menunjang dan menggiurkan, seperti benefit dan posisi yang lebih tinggi atau menjanjikan.

Tika Bisono, misalnya, ia menjadikan sifat berpindah perusahaan ini sebagai salah satu strateginya dalam berkarir. “Saya selalu melihat semua pekerjaan itu ada aspek psikologinya. Semua hal yang saya geluti selalu baru tetapi tidak kehilangan hubungan dengan psikologi, itu merupakan syarat utama saya. Saya merencanakan ini sebenarnya sejak lulus S1, tahun 1985. Rencana saya adalah saat itu saya masih berusia 24 tahun, saya menghitung enam tahun, hingga usia 30 tahun itu adalah proses belajar di perusahaan sambil berjualan kompetensi. Dan perusahaan yang saya masuki itu harus MNC untuk mengejar relasi di tingkat internasional juga. Usia 30-40 itu harus yang mulai naik, start doing-doing something.” (dikutip dari Human Capital no.10 th 2005).

Selain Tika, ada pula Daniel Rembeth, seorang tokoh periklanan yang mulai menapaki karirnya dari agency ke agency lain, seperti Matari, BBDO, AdWork, kemudian menjabat sebagai Managing Director di TCPTBWA. Kini ia meraih kesuksesannya sebagai pemimpin perusahaan The Jakarta Post.

Dan, contoh lainnya, adalah Budi Hamidjaja. Yaitu pemilik dari bisnis restoran siap saja California Fried Chicken (CFC). Ia memulai karirnya dengan bekerja di Rothmans of Pall Mall Australia, kemudian oleh perusahaan yang sama ia dikirim ke Indonesia menjadi National Sales Training Manager, sebelum akhirnya ia meloncat ke Philip Morris Asia, Inc sebagai Sales Operation Manager hingga menduduki jabatan Field Operation Manager di perusahaan yang sama. Tidak sampai disitu, perjalanan karirnya diteruskan dengan bergabung di PT. Lippoland Development, lalu PT. Putra Surya Perkasa hingga pada akhirnya ia mendirikan PT. Pioneerindo Gourment, Tbk.

Demikian pula dengan 15 orang yang pernah saya survey, kebanyakan dari mereka berpindah kerja dalam kurun waktu satu sampai dua tahun. Ada pula diantaranya, Rio, yang bekerja di perusahaan telekomunikasi. Ia telah berpindah sebanyak 11 kali dalam rentang 10 tahun karirnya. Masa kerja terlamanya dihabiskan hanya dalam waktu enam tahun, sisanya ia selalu berpindah-pindah setiap satu sampai dua tahun sekali. Rio pernah bekerja di pembiayaan kendaraan bermotor, perusahaan otomotif, juga tak ketinggalan pengalamannya di salah satu Bank swasta. Sampai ia pernah menggeluti dunia pertelevisian di negeri ini selama 6 tahun. Dan, merupakan rekor terlamanya dari seluruh perusahaan yang pernah ia singgahi, yang rata-rata paling lama 3 tahun.Lalu apa sih sebenarnya yang menjadi pemicu para karyawan sehingga menjadi “kutu loncat” selain yang sudah saya sebutkan diatas tadi?Sesungguhnya ada banyak pemicu, yang menyebabkan seseorang menjalani profesi pekerjaan dengan menjadi kutu loncat. Mulai dari alasan secara umum hingga spesifik, yang dihadapi oleh setiap individu masing-masing karyawan. Biasanya, secara umum yaitu masalah gaji, dan hal ini sering menjadi tolok ukur utama dari para karyawan untuk berpindah mencari pekerjaan di perusahaan lain. Dengan berpindah perusahaan, diharapkan dapat meningkatkan gaji mereka. Tetapi, yang menarik disini, adalah persoalan kenaikan gaji ini, tidak melulu dibarengi dengan kenaikan posisi dari perusahaan yang lama. Seperti pengalaman Rio misalnya, ia telah berpindah perusahaan belasan kali, namun itu juga tidak membawanya menduduki posisi yang lumayan tinggi saat ini. Namun, dilain pihak, bila dilihat kembali dari goal awal yang ia tetapkan pada dirinya sendiri sejak memulai karirnya, bahwa posisi tidak begitu penting, “yang penting bagi saya adalah penghasilan dan benefit yang bagus terutama karena saya telah berkeluarga,” jelasnya pada saya suatu ketika.Mungkin ada diantara Anda, para profesional, yang memiliki tujuan sama dengan Rio. Adapula yang tidak. Karena, banyak juga para profesional mentargetkan diri mereka sendiri dalam waktu 5 tahun kedepan telah mencapai posisi manajerial yang mapan disebuah perusahaan besar dan maju. Rudy misalnya, dalam usianya yang tergolong masih muda, yakni 35 tahun, ia telah mencapai puncak karirnya sebagai seorang General Manajer di perusahaan multinasional terkemuka di Jakarta. Lalu apa yang membedakan Rio dengan Rudy atau dengan para profesional lainnya yang memiliki keunikan sama yakni sebagai kutu loncat? Ya, masing-masing memiliki goal (tujuan) yang dijadikan target utama. Terlepas apakah itu permasalahan gaji saja, atau posisi di sebuah perusahaan, atau justru tidak menutup kemungkinan kedua-duanya.Kutu loncat yang handal biasanya sudah memiliki rencana yang matang akan jalur kehidupan karirnya. Hal itu adalah memposisikan target. Dimana, membuat target untuk diri kita sendiri mungkin akan lebih baik dilakukan sejak darimula. Karena semakin kita matang saat merumuskan urusan goal tadi, maka kita akan semakin fokus dalam usaha meraihnya.Apakah kunci menjadi kutu loncat yang sukses hanya sebatas perumusan tujuan saja? Tentu saja tidak, karena selain hal tersebut, yang tidak kalah pentingnya adalah mengetahui dengan pasti apa yang menjadi keunggulan diri kita sendiri. Apa keunggulan Anda? Karena setiap orang memiliki keunggulannya masing-masing. Dan, hal itu dapat dijadikan salah satu bentuk nilai fight Anda sendiri dalam dunia karir.Jika Anda hanya memiliki goal saja, namun masih bingung terhadap keunggulan yang Anda miliki, pada akhirnya yang dirugikan ya Anda sendiri. Pekerjaan Anda menjadi tidak terarah, dan menjadi kurang maksimal mengerahkan segala kemampuan Anda tersebut. Sayang bukan? Bagaimana menurut Anda?Saya sendiri contohnya. Dari sejak mula saya telah jatuh cinta dengan dunia periklanan dan desain. Sayapun bercita-cita menjadi seorang profesional dibidang yang sangat saya “gilai” ini. Menjadi inovatif dan produktif adalah impian saya.Sayapun akhirnya memulai karir saya di bidang periklanan. Tapi, sayangnya ditengah jalan, karena terdesak berbagai hal, akhirnya saya membelokkan sedikit bidang pekerjaan saya. Sayapun pindah ke perusahaan yang bergerak di media luar ruang. Tidak sampai disitu, saya kini justru kecemplung di dunia pertelevisian berbayar, yang untuk pertama kali merupakan bidang yang betul-betul baru, baik itu dari segi latar belakang pendidikan ataupun pengalaman kerja.Namun, semuanya saya jalani tanpa kekurangan rasa antusias saya untuk terus maju dan berkembang. Bisa menemukan hal baru yang dapat membangun kemampuan diri saya, sangatlah luar biasa. Bagi saya, ada yang masih kurang, yaitu urusan “target” tadi. Hanya saja, kata-kata bijak yang sering saya dengar dari suami saya sendiri, yaitu “tidak ada kata terlambat untuk memulai segala sesuatu”. Seperti Sir David Ogilvy, salah satu pendiri perusahaan periklanan terbesar dunia Ogilvy, yang pertama kali terjun ke dunia periklanan disaat umurnya telah memasuki usia 50 tahun. Dan, terbukti dari adanya perumusan target yang benar, antusiasme yang menyala-nyala serta kerja keras menhantarkannya pada kesuksesan besar.Demikian pula dengan Rio dan Rudy, yang masing-masing memiliki target, semangat, antusiasme dan kerja keras yang sama untuk sama-sama mencapai sukses sesuai porsinya masing-masing. Menaklukkan belantara dunia karir yang kompetitif dengan memilih menjadi kutu loncat.Untuk menentukan strategi karir Anda dengan menjadi kutu loncat, diperlukan sifat pantang menyerah dan terus belajar memperbaharui diri Anda, baik secara implisit maupun eksplisit. Mengembangkan terus “skill” dan kemampuan Anda diatas rata-rata termasuk etos kerja yang tinggi, sehingga Anda memiliki nilai tambah yang dapat ditawarkan kepada setiap perusahaan yang menarik Anda.Yang terpenting adalah jangan pernah takut gagal. Mungkin bagi kebanyakan orang, gagal merupakan aib utama seseorang yang seharusnya dihindari. Atau bahkan justru membuat orang tersebut berhenti berusaha dan bangkit kembali. Karena, dari setiap kegagalan yang Anda alami, artinya, satu-persatu pintu keberhasilan telah terbuka untuk Anda.Nah, sudah siapkah Anda untuk gagal?

 —Afra Mayriani

2 Responses

  1. Terima Kasih
    Afra Mayriani

  2. Terima Kasih Sekali Pak Rado, karena Anda telah mencantumkan nama saya sebagai penulis artikel kutu loncat yg ada di weblog Anda.

    Salam Sukses,

    Afra Mayriani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: