Membaca sebagai Gaya Hidup

rado habeahan

MEMBACA SEBAGAI GAYA HIDUP

Oleh: Mario Gagho

Hari Senin memang hari kurang tepat untuk mengunjungi
FRRO (Foreign Regional Registration Officer). Tapi
berhubung resident permit saya sudah tinggal sekian
hari lagi, saya terpaksa datang. Benar. Suasana ramai
sekali di kantor imigrasi itu. Persis seperti di
lounge ruang tunggu bandara. Saya mengambil posisi
duduk di sudut belakang supaya bisa agak bebas
“memata-matai” yg baru datang maupun yg sudah duduk
menunggu namanya dipanggil.

Duduk di samping saya sebuah keluarga bule, suami
istri dan dua anaknya yg masih kecil, antara usia 10
dan 12 tahun. Berbeda dg kalangan bangsa lain termasuk
NRI (non-resident of India) yg sibuk ngobrol dan
ribut, keluarga bule ini duduk tenang di kursi
masing-masing. Anehnya, semua sibuk membaca. Suami
tampak sedang membaca “My Life”-nya Bill Clinton, si
istri membaca novel karya novelis favorit saya, John
Grisham. Sedang kedua anak mereka asik membaca komik
Archie. Rencana untuk mengajak mereka ngobrol saya
urungkan, takut mengganggu; dan saya pun jadi membuka
buku karya Edward W. Said “the End of the Peace
Process” yg sudah sebulan lebih saya pinjam dari Qisai
tapi belum beres juga bacanya.

Pemandangan orang bule yg lagi asik membaca juga
sering kita lihat di mana-mana: di bandara, dalam
pesawat, dalam bis, dll.

Membaca (dan menulis) merupakan tradisi masyarakat
modern dan civilized. Sebaliknya, berbicara (dan
jarang membaca) menjadi ciri tipikal masyarakat yg
belum modern dalam arti hakiki. Walaupun secara
artifisial (phisical appearance) sudah “modern dan
civilized”: berbaju dan berperilaku dg mengikuti trend
dan model mutakhir, kacamata ala Britney Spears,
Rambut ala Beckham, John Farrell, Brad Pitt, dll.

Seorang rekan pernah bertanya pada saya, “Apa beda
antara masyarakat modern (Barat) dan masyarakat
agraris?” Saya jawab singkat, “Yg pertama sebagai
penggembala, yg kedua sebagai dombanya.”

***

Sebenarnya pertanyaan terpenting adalah mengapa Barat
jadi “penggembala” dan kita dg suka rela menjadi
“domba gembalaan” di segala bidang? Bukankah kita
sama-sama manusia yg memiliki ego dan ambisi untuk
menjadi penggembala? Secara historik, jawabannya bisa
dikronologikan dari awal abad ke-11 sampai terjadinya
revolusi ‘Renaissance’ Prancis dan berlanjut sampai
sekarang. Sangat panjang.

Namun, semua itu berakar dari satu hal: pendidikan.
Semakin unggul dan meratanya pendidikan suatu bangsa,
maka akan semakin independen bangsa itu dari
ketergantungan pada bangsa lain. Barat plus Jepang
saat ini memimpin dunia. Mereka yg “menggembala” kita
di segala bidang: dari pesawat, komputer, game,
kosmetik, baju, telpon genggam, sampai merek pembalut
wanita dan underwear.

Begitu juga, dalam konteks kompetisi “penggembala”
dalam negeri ditentukan oleh mutu pendidikan. Mutu
pendidikan di Jawa, misalnya, lebih unggul dari luar
Jawa. Konsekuensinya, penggembala kita kebanyakan
berasal dari Jawa atau orang luar Jawa yg mengenyam
pendidikan di Jawa.

Dalam konteks kompetisi mahasiswa Indonesia di luar
negeri, lulusan Amerika dan negara Barat lain lebih
banyak mendominasi posisi di pusat maupun daerah–baik
sebagai pejabat maupun sebagai intelektual–di
banding, misalnya, lulusan negara-negara berkembang
seperti Mesir, Pakistan dan India.

Pertanyaan penting ketiga, mengapa pendidikan yg
unggul dapat menciptakan manusia yg berkualitas
sebagai penggembala? Banyak faktor. Salah satunya
adalah karena pendidikan yg bermutu dapat menciptakan
suasana kondusif bagi anak didik untuk selalu banyak
membaca (dan menulis); dan menjadikan kebiasaan
membaca itu sebagai gaya hidup (life-style)
kesehariannya.

Sayangnya, saya tidak melihat hal itu (membaca dan
menulis sebagai gaya hidup) sebagai kultur yg inheren
dalam diri mahasiswa maupun masyarakat Indonesia di
India. Tradisi mahasiswa India yg gigih dan
hard-working–sehingga mereka mendominasi
dunia–tampaknya tidak menular dan ‘memberkahi’ kita.
Yg menular ke kita justru kultur tukang Rikshaw yg
pemalas, yg kalau lagi asik merokok atau ngobrol
sampai menolak penumpang.

Dg demikian, timbul pertanyaan keempat dan terakhir,
apakah mahasiswa Indonesia di India, mampu
berkompetisi dg mahasiswa Indonesia dari negara lain
atau dg yg di tanah air? Apabila “tradisi tukang
rikshaw” masih menjadi kultur kita, maka jawabnya
jelas: “No Way!”

Ketidaksukaan membaca (dan menulis), membuat status
akademis dan gelar kita dipertanyakan, karena hal itu
akan tergambar secara jelas saat kita berbicara. Semua
akan tampak salah. Omongan kita jadi terasa hambar.
Ada pepatah Inggris yg cukup tepat dalam soal ini,
“Three days without reading, talking become
flavorless.” Ketika bicara kita terasa hambar di mata
orang lain, maka kita pun menjadi manusia yg hambar
dan tidak menarik.

Saya tutup refleksi ini dg sebuah kutipan dari buku
‘Now and Then’ (1998) karya Joseph Heller, “Some men
are born mediocre, some men achieve mediocrity, and
some men have mediocrity thrust upon them.”[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: