Mahasiswa dengan Omzet Miliaran…!!>!?

BIODATA

Nama : Elang Gumilar
Tanggal lahir : 6 April 1985
Orangtua : H. Enceh dan Hj. Prianti
Pendidikan : Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB 2003
Prestasi :
– Juara Pidato Bahasa Sunda SMP Se-Bogor tahun 2000
– Juara Harapan I LCT SRIBADUGA SMP Se-Jabar tahun 2000
– Juara Java Economics FEM IPB SMU se-Jawa tahun 2003
– Juara Kompetisi Ekonomi FE UI SMU se-Jabodetabek tahun 2003
– Juara 3 Marketing Games FE USAKTI Nasional
– Wirausaha Muda Mandiri Terbaik Indonesia Tahun 2007
– Pemuda Pilihan 2008 TV One (memperingati 80 tahun Sumpah Pemuda)
– Indonesia’s Top Young Entrepreuner 2008

DI usianya yang baru menginjak 23 tahun, Elang Gumilang sudah sukses menjadi pengusaha dengan catatan omzet hingga miliaran rupiah. Cemerlangnya prestasi tersebut bukan hanya dari sisi nominal, melainkan juga dari sisi menyeruaknya kepedulian sosial. Elang ialah wirausahawan muda yang membangun perumahan murah di kawasan Bogor untuk menolong kaum miskin mendapatkan tempat tinggal.

Nama Elang Gumilar mungkin sudah tidak asing lagi, khususnya bagi mereka yang tertarik pada isu kewirausahaan. Ia terbilang sering menjadi pembicara dalam berbagai seminar yang mengupas wirausaha. Namanya melambung sebab Elang berhasil menyabet sejumlah penghargaan bergengsi bidang wirausaha, seperti Wirausaha Muda Mandiri Terbaik Indonesia Tahun 2007 dan Indonesia’s Top Young Entrepreuner 2008. Tak ayal lagi, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB 2003 ini memang layak berbagi cerita tentang kisah suksesnya, yang diharapkan bisa menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi orang lain.

Elang membangun perumahan di kawasan Bogor yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan kaum menengah ke bawah atas tempat tinggal. “Di Indonesia, ada 70 juta rakyat Indonesia belum punya rumah,” kata Elang kepada Kampus. Baginya, itu adalah segmen pasar yang potensial untuk digarap. Maka, ketika suatu ketika ada peluang mengakuisisi satu tanah di desa Cinangka kecamatan Ciampea, Elang pun langsung mengambil peluang itu. Dengan modal patungan Rp 340 juta bersama beberapa temannya, pada tahun 2007 Elang mulai membangun rumah sehat sederhana (RSS).

Elang membangun deretan rumah tipe 22/60 dan juga tipe 36/72. Berkat subsidi dari Kementerian Negara Perumahan Rakyat, rumah-rumah tersebut bisa ditawarkan hanya seharga Rp 25 juta-37 juta per unitnya. Hanya dengan DP Rp 1 juta-3,7 juta dan cicilan mulai dari Rp 124.000,00-290.000,00 per bulan selama 15 tahun, mereka sudah bisa memiliki rumah tersebut. “Rencana pembangunan sekitar 2000 rumah, sampai kini baru ada 350 rumah,” kata lelaki kelahiran 6 April 1985 ini.

Selama ini bisnis properti kebanyakan ditujukan hanya untuk orang-orang berduit. Sedangkan, perhatian pada perumahan sederhana dan murah untuk orang miskin, jarang sekali terdengar. Elang mengakui ada banyak jenis bisnis lainnya yang lebih “basah”, daripada pilihan bisnisnya sekarang. Namun demikian, keuntungan mungkin boleh kalah dibandingkan bisnis lain, akan tetapi ia berpandangan yang penting ialah bisa bermanfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain.

Dari penjualan rumah-rumah itu, modal Elang pun diputar kembali untuk membebaskan lahan di sekitarnya. Tak sia-sia, hingga kini perusahaannya beranjak membesar dengan 30-an karyawan tetap dan 200-an karyawan tidak tetap, dan lokasi perumahan yang sudah bercabang ke tiga lokasi, seluruhnya di Bogor. Namun, ketika ditanya oleh Kampus tentang omzet usahanya kini, Elang tidak bersedia menjawab dengan alasan ia sedang belajar tawadu. “Takut jadi sombong atau gimana gitu,” kata Elang, yang kini tengah menyusun skripsi. Meski demikian, beberapa sumber menyebutkan bahwa omzet-nya setahun lalu Rp 17 miliar. “Kalau sekarang ada 3 perumahan, orang-orang silakan saja menghitung sendiri,” kata Elang, seraya tertawa.

**

JANGAN kira kesuksesan yang diraih oleh Elang saat ini sebagai sesuatu yang instan. Elang menuturkan butuh proses dan kesabaran untuk mendapatkan semuanya. Jiwa wirausaha Elang sendiri mulai terasah saat ia mengenyam pendidikan di SMA 1 Bogor.

Ketika itu, Elang bertekad saatnya nanti lulus SMA, ia ingin bisa membiayai kuliahnya sendiri tanpa menggantungkan diri pada orang tuanya, pasangan H. Misbah dan Hj. Espriyanti. Targetnya, ia punya uang Rp 10 juta untuk modal kuliahnya kelak. Diam-diam Elang pun berbisnis kecil-kecilan dengan berjualan donat keliling. Lumayan juga, setiap hari dia bisa mengantongi setidaknya Rp 50.000,00.

Rupanya kegiatan sembunyi-sembunyi itu tercium juga oleh orang tua Elang. Orang tua menyuruh Elang berhenti berjualan, karena khawatir kegiatan tersebut akan mengganggu ujian akhir. Dilarang berjualan donat, Elang justru tertantang untuk mencari uang dengan cara lain yang tidak mengganggu sekolahnya, di antaranya dengan mengikuti berbagai lomba bakat dan keilmuan.

Ketika masuk kampus IPB, jiwa bisnis Elang pun berlanjut. Rupanya jiwa wirausahanya memang mendesak untuk direalisasikan. “Bukan apa-apa, memang butuh uang aja sih,” kata Elang, seraya tertawa. Di tingkat pertama IPB, Elang berjualan sepatu dan supplier lampu bolam di asrama IPB. Setelah tidak lagi berbisnis sepatu, Elang kebingungan mencari bisnis apalagi. Peluang bisnis lampu sendiri diawali ketika Elang melihat banyak lampu di IPB yang redup. Uniknya, strategi bisnis lampu itu nyaris tanpa modal. Sekadar bermodal surat dari kampus, ia melobi salah satu perusahaan lampu untuk menyetok lampu di kampusnya. Dan ternyata, proposalnya gol. Setiap penjualan, ia pun mendapat keuntungan hingga Rp 15 juta.

Di tingkat dua, sebab perputaran uang pada bisnis lampu berjalan lambat, Elang pun beralih pada bisnis berjualan minyak goreng. Satu per satu toko di sepanjang kawasan kampus, ia titipi minyak. Pekerjaan itu pastinya lumayan menguras tenaga, sebab ia merangkap tukang kuli, supir, sekaligus manajer. Sebelum dan sepulang kuliah, ia bolak-balik mengisi dan mengambil jerigen minyak goreng. Akibat kuliahnya terganggu karena kelelahan, ia pun memutuskan berhenti bisnis minyak.

“Kalau bisnis minyak, kebanyakan pakai otot. Saya mulai mikir bisnis yang pakai otak,” kata Elang. Kemudian, ia pun menjajal bisnis lembaga kursus bahasa Inggris di kampusnya. Adapun modalnya, ia patungan bersama kawan-kawannya.

Di balik pribadinya yang tenang dan rendah hati, Elang memiliki gerak progresif dalam naluri bisnis. Elang pernah mengalami kejadian yang memacunya berani terjun ke dunia properti. Suatu hari setelah salat Istikharah, ia bermimpi melihat bangunan yang sangat megah, yang ternyata dibuat oleh dirinya. Sejak saat itu, ia mulai mencoba-coba ikut berbagai tender. Tender pertama yang ia menangi Rp 162 juta di Jakarta yaitu membangun sekolah dasar di daerah Jakarta Barat. Bisnis propertinya pun berlanjut sukses hingga sekarang membangun perumahan. “Sekarang, saya lagi tertarik pada bisnis bertambangan, khususnya pasir kuarsa. Gara-garanya waktu membebaskan tanah di Bogor, ternyata ada lahan tambang, wah memang mendapat keberuntungan,” kata Elang.

Di usianya yang relatif muda, pemuda ini sudah menuai berbagai keberhasilan. Dari hasil usahanya itu Elang sudah mampu memenuhi berbagai kebutuhan materialnya sendiri, di antaranya rumah dan mobil sendiri. Meski demikian, ia mengaku masih lebih senang tinggal bersama orang tuanya. “Senang kalau bersama orang tua, merasa berbakti, bisa salat berjamaah, ke masjid bersama, bisa bantu-bantu, bisa mijitin, itu kebahagiaan tersendiri buat saya,” kata Elang.

Lokasi rumah idaman Elang sendiri ialah di gunung. Kini, ia tengah berproses mengincar tanahnya. Di sana, ia bukan hanya ingin membuat lahan untuk tempat peristirahatan pribadi, tapi juga berencana membangun pesantren sebagai tempat menampung anak yatim, pelatihan bela diri, pengaduan orang yang memiliki masalah, dsb. “Masih banyak impian saya yang lain, misalnya, bikin kota sendiri, rumah sakit, stasiun TV, wah banyak sekali, doakan saja,” kata Elang.

Elang menuturkan, ia bisa berada di posisi yang sekarang, tidak pernah terlepas dari peran didikan orang tuanya. Sebenarnya, Elang terlahir dari keluarga yang lumayan berada, namun demikian sejak kecil orang tuanya kerap mengajarkan bahwa segala sesuatu diperoleh tidak dengan gratis. Orang tuanya juga meyakini bahwa rezeki itu bukan berasal dari mereka tapi dari Allah SWT. “Dulu, kalau minta PlayStation, saya diminta hapal surat Yassin dalam 3 hari. Ingin punya sepeda, minimal dalam seminggu bisa 3 kali salat Subuh ke masjid. Artinya, orang tua mendidik tidak ada yang gratis, melainkan perlu didapatkan dengan perjuangan,” kata Elang.

Perjalanan Elang dalam merintis bisnis, tidak selamanya berjalan mulus. Ia pernah mengalami ditolak oleh bank ketika memohon dana pinjaman, hingga ditipu rekan kerja. Semuanya memberikan pengalaman berharga yang kini mengantarkannya sebagai salah seorang sosok pengusaha muda yang sukses dalam merintis bisnis di tanah air. Prestasinya patut diapresiasi dan dijadikan suri teladan bagi anak-anak muda yang lain.

Ia sepakat, jika generasi muda masa kini diharapkan tidak lagi berpikir melulu mencari kerja, melainkan sudah saatnya untuk menciptakan pekerjaan dan membuka peluang usaha. “Jangan apa-apa manja, apa-apa minta orang tua, karena rezeki datangnya dari Allah SWT,” katanya menegaskan.

Elang juga menyebutkan agar para wirausahawan pemula jangan terlalu banyak ragu dalam memulai bisnis, apalagi jika niatnya bukan untuk kebaikan. “Biasanya, suka mengeluh tidak ada modal. Padahal, modal tidak identik dengan uang, modal itu bisa juga berbentuk nama baik dan relasi,” tutur Elang. “Yang penting adalah niat harus benar, berani keluar dari zona nyaman, dan sungguh-sungguh mengerjakan, dan tentunya sinergi dari keyakinan pada Allah SWT, ilmu, dan ikhtiar,” ungkap Elang, lagi. ***

dewi irma
kampus_pr@yahoo.com

One Response

  1. Horas, bagus juga blognya ya bang….. ajari kita2 donk buat blog yang bagus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: