Penyebab “Karakter Ingin Jalan Pintas” di Kalangan Pelajar dan Mahasiswa

rado-habeahan21

Generasi muda sekarang sangat akrab dengan komputer dan laptop. Karena kedua produk ini dilengkapi dengan fitur (feature) pendidikan dan hiburan seperti game dan lagu. Apalagi sejak produk ini telah menjadi mata pelajaran- dengan nama TIK (Teknologi Informasi Komunikasi) pada jenjang pendidikan SMP dan SLTA. Ada satu kata atau frase yang sudah dikenal baik oleh pengguna komputer yaitu “short cut” atau jalan pintas. Lewat short cut pengguna komputer bisa langsung masuk ke dalam file, folder atau program yang ingin dioperasikan pada komputer.

Sebahagian pelajar dan mahasiswa sekarang cenderung suka belajar dan bekerja dengan cara ngebut atau dengan menggunakan berbagai muslihat atau tipuan (mungkin dengan mencontek atau memakai jasa orang lain untuk memuluskan tujuan) adalah dapat dipandang sebagai karakter jalan pintas. Atau dapat juga dikatakan sebagai budaya instan (sekarang ditanam besok dapat dipanen, nonsense bukan?!).

Karakter jalan pintas- belajar/ bekerja santai namun masa depan cerah- jarang sekali membuat mereka sukses. Fenomena umum adalah bahwa manusia yang berkarakter jalan pintas, rata- rata berakhir dengan masa depan yang suram. Namun bagaimana karakter jalan pintas telah tumbuh subur pada pribadi sebahagian pelajar dan mahasiswa? Tentu karakter ini terbentuk secara perlahan-lahan dalam proses kehidupan sosial mereka sejak dari masa anak-anak sampai ke masa remaja/ dewasa.

Karakter anak-anak zaman sekarang tidak jauh berbeda dengan karakter anak-anak zaman dahulu. Ketika lahir mereka sama-sama pandai menangis dan sama- sama melalui proses pertumbuhan dan perkembangan. Namun mereka menjadi berbeda satu sama lain dalam hal karakter karena genotype atau karakter turunan dari orangtua dan ditambah dengan faktor stimulus (rangsangan) dan pengalaman hidup yang dialami. Faktor yang terakhir yaitu stimulus dan pengalaman hidup sangat menentukan pembentukan karakter “ingin jalan pintas/ budaya instan”. Dari usia dini sampai usia 5- 8 tahun, semua anak di dunia masih bersifat patuh dan berkarakter sebagai anak manis- anak yang baik dan pasif. Rentangan usia ini adalah masa-masa pembentukan karakter. Mereka memang menerima input-input untuk pembentuk karakter atau perilaku- apakah kelak berkarakter smart atau ingin jalan pintas.

Namun, menjelang usia akil balig (remaja)- di akhir tingkat SD dan di awal tingkat SMP, kecendrungan pola karakter mereka terlihat lebih jelas- karakter ingin jalan pintas atau suka bekerja/belajar keras. Pada ambang masa remaja ini mereka memperlihatkan fenomena senang memberontak- memperlihatkan opini sendiri dan ingin mencari jati diri. Karakter suka memberontak ini makin menajam ketika mereka dalam masa remaja. Sebagian orang tua/ orang dewasa yang kurang memahami perkembangan jiwa anak sering kesulitan untuk beradaptasi dengan mereka. Masa ini dinamakan sebagai masa panca roba. Masa panca roba pada hakekatnya merupakan tahap akhir sebelum anak memaski usia dewasa.

Kalau dalam masa remaja mereka terlihat suka jalan pintas maka dalam usia dewasa dini karakter jalan pintas bisa terlihat lebih jelas atau factor sugesti dan saran dari luar mengikis karakter ingin jalan pintas. Karakter jalan pintas terbentuk tanpa disadari dalam proses hidup. Ada sejumlah faktor penyebab terbentuknya karakter ingin jalan pintas dimana ciri-ciri oknumnya adalah: pemalas, motivasi belajar rendah, dan bergaya hidup ingin senang terus. Ini merupakan kontribusi negatif dari faktor ekstrinsik. Setiap orang sejak usia dini dalam pertumbuhan dan perkembangannya mendapat stimulus atau pengaruh dari tiga jenis lingkungan. Sarwono (2007) dalam artikelnya “Faktor-faktor yang menyebabkan anak malas belajar” (http://sarlito.hyperphp.com) mengatakan bahwa jenis lingkungan yang mempengaruhi anak rajin atau malas adalah seperti lingkungan mikro, lingkungan meso dan exo.

Manusia atau orang-orang yang berada dalam lingkunan mikro seorang anak adalah orang- orang yang berada dalam keluarga mereka seperti kakek-nenek, ayah-ibu, bibi-paman. Kemudian juga bisa sekolah yaitu guru-guru mereka, juga suster atau baby sitter di tempat penitipan anak, pembantu rumah tangga dan tetangga dekat atau orang-orang seputar rumah. Lingkungan mikro yang lain adalah kondisi atau kualitas rumah mereka, tempat bermain mereka dan orang-orang lain yang dekat dengan anak dan dijumpainya tiap hari. Saat anak berusia lebih kecil, orang-orang yang ada dalam lingkungan keluarga/ di rumah mempunyai peran penting dalam membentuk karakter mereka dari stimulus dan pengaruh yang diberikan, apakah anak menjadi orang rajin, sabar, dan tekun. Ayah dan ibu yang cerdas tentu dapat membantu anak untuk tumbuh dan berkembang dengan menyediakan sarana pendidikan dan permainan berkualitas dan sekaligus memberi anak model untuk tumbuh menjadi manusia yang ulet.

Kalau anak kehilangan peran ayah dan ibu- mungkin karena kesibukan karir atau karena factor nasib, maka peran mendidik/ mengasuh anak bisa saja digantikan oleh nenek, bibi, paman, atau pembantu rumah tangga. Maka orang-orang tadilah sebagai penentu pembentukan karakter anak. Akan sangat beruntung kalau peran pengganti sebagai pengasuh anak memiliki kualitas dalam mengasuh anak.

Lingkungan ekstrinsik berikutnya adalah lingkungan meso yaitu bentuk hubungan orangtua-guru, orangtua-teman, pergaulan antar teman, guru-teman, dan lain-lain. Bentuk dan kualitas hubungan mereka sangat mempengarungi prilaku seorang anak (pelajar). Mereka akan menyerap prilaku dan nilai dari apa yang mereka amati. Teman-teman yang berkarakter baik namun suka meremehkan guru, sebagai contoh, dapat memberi inspirasi bagi temannya untuk berperilaku yang sama. Atau figur seorang guru yang memiliki kharisma di mata anak didik, namun ia perokok berat atau senang mengunjungi night club juga bisa memberi inspirasi bagi anak didik dalam berperilaku.

Ketika usia anak beranjak remaja, maka pengaruh orang tua bisa jadi hilang atau berkurang. Apalagi kalau orangtua kurang mencikaraui (mengurus) soal pendidikan anak. Maka peran pengganti dalam mempengaruhi anak bisa jadi datang dari guru, orangtua teman, famili, atau orang yang sering dijumpai oleh anak. Dalam zaman sekarang dengan bentuk keluarga inti- karena faktor migrasi dan tinggal jauh dari kaum kerabat/ kampung halaman- maka ikatan emosi remaja/ anak dengan kerabat , bisa jadi juga dengan orangtua sendiri, tidak begitu dekat. Sehingga apa yang dirasakan oleh sebahagian orangtua bahwa anak mereka tidak lagi mendengarkan perkataan (opini) dan nasehat mereka.

Anak makin sering membantah, menolak opini dan larangan mereka. Karena anak telah memiliki kriteria opini sendiri dan tidak mudah menerima orang lain, maka dalam usia ini terkesan bahwa anak suka melawan orangtua. Apalagi semenjak mereka melihat banyak contoh yang kontra dari hal yang dilihat di dalam rumah dengan apa yang dikatakan oleh orangtua sendiri. Suatu hari seorang ibu berkata “nak rajin-rajinlah belajar agar kelak bisa berhasil dalam hidup”, tetapi dalam kenyataan anak melihat tetangganya sendiri yang begitu rajin belajar (tetapi kuper atau kurang pergaulan) begitu tamat dari perguruan tinggi dengan IPK (indeks prestasi kumulatif) cum laude telah menjadi pengganggur. Contoh lain, orangtua melarang anak usia 15 tahun agar tidak menyetir mobil, namun anak berargumen (membantah) bahwa anak tetangga (atau temannya di sekolah) diizinkan menyetir mobil sejak dari bangku sekolah dasar. Jika anak disuruh sholat, maka anak akan protes karena papanya juga tidak sholat.

Diluar lingkungan mikro dan meso ada lagi lingkungan exo. Lingkungan exo adalah lingkungan yang tidak langsung menyentuh pribadi pelajar/ mahasiswa, akan tetapi masih besar pengaruhnya pada pembemtukan karakter mereka, seperti keluarga besar, polisi, dokter, presenter, bintang sinetron/ selebriti, tokoh politik, dan lain-lain. Intensitas interaksi tidak langsung (lewat menonton atau membaca) juga menentukan bentuk karakter pelajar/ mahasiswa. Cukup banyak pelajar dan mahasiswa sekarang yang belum terkondisi dengan budaya tulisan, budaya membaca dalam keluarga. Yang umum terlihat adalah banyak yang terkondisi dengan budaya menonton televisi dan budaya lisan- budaya ngobrol sampai debat kusir- berdebat tanpa analisa yang dalam atau berdebat dengan emosi dan kepala panas. Cukup banyak remaja dan mahasiswa yang terkondisi dengan dua kebisaaan/ budaya ini- menonton dan budaya ngobrol. Ini tumbuh subur karena banyak rumah yang memiliki televisi dan sarana hiburan lain, namun tidak tahu kapan harus menonton dan memperoleh hiburan. Sementara itu cukup banyak orangtua yang belum memiliki konsep atau pola mendidik bagi keluarga. Konsep mereka begitu praktis, bahwa mereka terpaksa menghidupkan televisi atau sarana hiburan agar anak-anak tidak keluyuran ke rumah tetangga. Kalau perlu televisi dan VCD player hidup 24 jam.

Figur-figur yang kerap muncul dalam layar televisi seperti presenter, public figure, dan bintang sinetron, begitu figur yang ada dalam film pada DVD juga mempengaruhi karakter pelajar/ remaja/ mahasiswa sebagai penontonnya. Setelah menonton figur- figur tadi mereka memperoleh inspirasi untuk meniru perilaku dan gaya hidup yang sama- cara berbicara, cara berpakaian dan sampai kepada assesori yang dipakai oleh figure tontonan mereka tadi. Figur dalam lingkungan exo cukup banyak mewarnai prilaku remaja (pelajar dan mahasiswa) sekarang seperti memakai anting pada sebelah telinga, bertato, mencat rambut dengan warna norak, memakai celana model melorot dan menyembulkan celana dalam , gaya hidup mengamburkan uang lewat pemakaian HP yang kurang efektif, berpenampilan norak/ keren dengan rokok terselip di bibir, dan lain-lain.

Prinsip dan konsep mendidik praktis seperti ini sering membunuh karakter anak untuk ikut berpartisipasi dalam belajar dan bekerja- merapikan rumah. Pada akhirnya anak memetik kegagalan dalam bidang akademik di sekolah dan akhirnya timbul pro dan kontra antara sekolah dan rumah. Kata guru “anak bodoh karena orangtua kurang peduli dalam mendidik anak”, dan kata orangtua, “anak gagal karena guru kurang berkualitas dalam mengajar”. Harus diakui bahwa menjadi orangtua dan pendidik (guru) di zaman sekarang memang sulit. Karena banyak orangtua dan guru yang belum pernah mengalami situasi seperti sekarang pada masa kecilnya. Guru dan orangtua dulu, waktu kecil, cuma cenderung meniru saja cara-cara mendidik dan berperilaku orangtua dan senior mereka. Kemudian, memang sulit mengubah pola berfikir seseorang dari pola berfikir tradisionil sesuai dengan tuntutan zaman sekarang. Namun bagaimana pun berat dan sulitnya mendidik dan mengajar anak, orang tua dan guru perlu melakukan revolusi dalam mengajar dan mendidik anak untuk memiliki wawasan dan memahami fenomena sosial zaman sekarang, karena kalau tidak maka mereka akan menjerumuskan generasi muda dalam kesulitan yang lebih besar karena mis-communication antara mereka.

Mengantisipasi/ mencegah agar anak (pelajar/mahasiswa/remaja) tidak terjebak dan ketularan dengan karakter “ingin hidup enak lewat jalan pintas” yang hanyak banyak dalam bentuk iming-iming dalam mimpi. Karakter ingin hidup dengan jalan pintas/ budaya instan sering terekspresi lewat moto dan gaya hidup mereka: hidup santai masa sepan cerah. Maka orangtua dan guru perlu memaksimalkan peran mereka dalam mendidik (terutama bagi orangtua) dalam membentuk karakter anak menjadi orang yang rajin dan ulet dalam belajar dan bekerja, tidak perlu membebaskan anak untuk tidak terlibat membantu orangtua bekerja di rumah- sebab cendrung mematikan potensi anak dalam memiliki life skill/ kecakapan hidup. Orangtua tua perlu memberi dan menjadi model (uswatul hasanah- suri teladan), berperilaku terlebih dahulu agar anak bisa menjadi orang yang rajin dan ulet dan menyediakan/ memperkaya wawasan anak serta memilihkan tempat pendidikan dan bermain yang berkualitas bagi mereka.

Marjohan M.Pd, guru SMAN 3 Batusangkar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: